Sebagai wilayah pesisir yang dianugerahi kekayaan bahari dan kondisi geografis yang ideal, Kecamatan Maligano di Kabupaten Muna terus menunjukkan lompatan pesat dalam sektor perikanan budidaya. Hamparan garis pantai yang panjang dengan kualitas perairan payau yang masih terjaga menjadikan kawasan ini sebagai habitat yang sangat cocok untuk pengembangan komoditas bernilai ekonomi tinggi. Saat ini, semangat pengembangan budidaya udang vaname (Litopenaeus vannamei) di kawasan tersebut kian menggeliat pesat, perlahan namun pasti mengubah wajah pesisir menjadi roda penggerak ekonomi baru bagi masyarakat desa setempat.
Pertumbuhan produktivitas tambak masyarakat dapat terlihat jelas dari kurva hasil panen yang terus melonjak secara signifikan. Jika merunut pada rekam jejaknya, panen parsial perdana pada bulan Maret 2024 lalu hanya mampu menghasilkan sekitar 8 ton udang. Namun, berkat ketekunan dan proses adaptasi yang cepat, hasil tersebut melonjak tajam dalam kurun waktu satu tahun. Pada siklus panen ketiga yang digelar pada 18 Maret 2025 di Desa Langkoroni, setiap petak tambak berukuran 35×35 meter dilaporkan mampu menghasilkan 3 hingga 4 ton udang dengan kualitas ukuran yang sangat kompetitif di pasaran. Angka produktivitas per petak yang sangat padat ini memperkuat keyakinan bahwa Maligano memiliki daya dukung lingkungan dan kapasitas sumber daya manusia untuk menjadi salah satu sentra budidaya udang vaname terkemuka di wilayah Sulawesi Tenggara.
Capaian membanggakan ini menjadi tonggak sejarah penting bagi komunitas petambak lokal yang tengah berada dalam fase transisi. Selama bertahun-tahun, masyarakat pesisir mayoritas mengandalkan metode budidaya tradisional yang sangat bergantung pada kondisi alam dan tingkat kepadatan tebar yang rendah. Kini, mereka berhasil membuktikan kemampuan beralih menuju sistem budidaya intensif yang mengedepankan presisi. Transisi ini menuntut dedikasi ekstra, mulai dari pemahaman tentang manajemen kualitas air, tata cara pemberian pakan yang efisien, hingga penerapan biosecurity untuk mencegah masuknya wabah penyakit. Ke depan, keberhasilan penerapan sistem intensif di Langkoroni ini diharapkan dapat terus dikembangkan ke skala kawasan yang lebih luas.
Geliat keberhasilan di Langkoroni kini telah menyebar luas dan menjadi sumber inspirasi utama bagi para petambak di desa-desa lain di seluruh pelosok Kecamatan Maligano. Keberhasilan ini menghapus keraguan bahwa petambak lokal bisa naik kelas. Sulkifli dari PT Mutia Feedmill Makmur menilai bahwa potensi hamparan wilayah Maligano masih sangat terbuka lebar untuk dieksplorasi. “Kalau pakan berkualitas diimbangi dengan manajemen yang baik, desa-desa lain di Maligano juga bisa ikut naik kelas. Semangat petambaknya sudah terlihat,” ujarnya. Ia meyakini bahwa dengan kedisiplinan dan manajemen kolam yang terukur, pola kesuksesan yang sama dapat dengan mudah direplikasi oleh kelompok warga lainnya.

Gelombang antusiasme ini disambut dengan sangat positif oleh para petambak lokal di desa-desa tetangga yang memiliki karakteristik pesisir serupa. Pak Ali, seorang petambak lokal dari desa Latompa, mengungkapkan keinginannya yang menggebu untuk belajar lebih banyak mengenai teknik budidaya modern tersebut. Ia menyadari bahwa desanya memiliki lahan potensial yang belum tergarap maksimal. “Kami lihat hasil di Langkoroni sudah bagus. Kami juga ingin seperti itu. Asal ada bimbingan dan akses pakan yang lebih mudah, kami siap,” katanya dengan penuh tekad.
Di balik optimisme yang melambung tinggi, langkah menuju kawasan sentra yang mapan tetap membutuhkan fondasi infrastruktur dan komitmen kelestarian alam yang sangat kuat. Pak Kris, salah satu pemilik tambak modern di kawasan tersebut, menyoroti betapa krusialnya fasilitas penunjang operasional serta kewajiban menjaga ekosistem sekitar. “Infrastruktur dan menjaga perairan agar tidak tercemar masih jadi tantangan. Kalau dua hal ini diperbaiki, kami bisa lebih fokus meningkatkan produksi,” ujarnya. Keluhan ini sangat beralasan, mengingat budidaya intensif membutuhkan suplai listrik tanpa henti untuk menggerakkan kincir air, akses jalan untuk menjaga kesegaran udang pascapanen, serta sarana pengolahan limbah agar air laut tidak rusak.
Menyambung pemikiran tersebut, Pak Joyo, yang juga seorang petambak lokal, menambahkan bahwa kunci keberhasilan jangka panjang kawasan pesisir terletak pada ikatan solidaritas. Menurutnya, ego sektoral antar desa harus dihilangkan jika ingin membangun ekosistem bisnis yang sehat. “Jangan hanya satu desa yang maju. Kalau semua desa di Maligano saling dukung, kita bisa jadi sentra udang vaname yang benar-benar kuat,” pesannya. Dengan bersatu, para petambak dapat membangun posisi tawar yang jauh lebih baik dalam menstabilkan harga dan membeli sarana produksi secara kolektif.

Dengan modal kerja keras tanpa lelah dari para petambak lokal serta semangat kebersamaan yang terus mengakar kuat, Kecamatan Maligano kini berjalan dengan langkah yang semakin mantap. Visi besar untuk mewujudkan wilayah ini sebagai lumbung budidaya udang vaname yang luas, ramah lingkungan, dan berdaya saing tinggi bukan lagi sekadar angan-angan. Semangat kolaborasi yang murni tumbuh dari akar rumput ini diharapkan terus menyala, merangkul dan memberdayakan seluruh jengkal desa pesisir di Maligano demi kesejahteraan ekonomi bersama.
![]()











