Oleh: Agustiono
(Eks Ketua Umum / Dewan Senior IPMAH Bulukumba Sultra)
Pelantikan pengurus Ikatan Pelajar Mahasiswa Bulukumba Sulawesi Tenggara (Ipmah Bulukumba Sultra) periode 2026–2027 yang dihelat pada Minggu, 18 Oktober 2026, di Villa Sparko Radar, Konawe Selatan, selayaknya tidak sekadar dimaknai sebagai ritual pergantian tongkat estafet kepemimpinan. Lebih dari itu, momentum ini adalah ruang kontemplasi bagi kita semua untuk meninjau kembali kemudi organisasi, memperkuat fondasi kaderisasi, serta memastikan bahwa nilai-nilai luhur para pendahulu tidak hanya menguap menjadi slogan.
Sebagai seseorang yang pernah berdiri di garis depan mengemban amanah sebagai Ketua Umum Ipmah Bulukumba Sultra, saya memahami betul bahwa euforia pelantikan hanyalah gerbang awal. Tantangan sesungguhnya dan yang paling berat baru akan dimulai sehari setelah layar selebrasi diturunkan. Organisasi ini sedang dihadapkan pada satu pertanyaan eksistensial: sejauh mana nilai-nilai kebudayaan yang kita agungkan mampu membumi menjadi tindakan nyata dalam roda organisasi?
Kehadiran orang tua beserta para senior Ipmah Bulukumba Sultra dan perwakilan paguyuban mahasiswa daerah lain, adalah simbol nyata bahwa simpul persaudaraan itu ada. Namun, dukungan ini menuntut pembuktian konkret. Pengurus baru tidak boleh terjebak pada kebanggaan seremonial.
Mali’ Siparappe, Tallang Sipahua: Napas Perjuangan di Tanah Rantau
Di tengah arus zaman yang semakin individualistis, Ipmah Bulukumba Sultra harus kembali pada pijakan moralnya. Hidup di tanah rantau membawa ragam tantangan mulai dari tuntutan akademik, persoalan ekonomi, hingga gegar budaya. Dalam situasi rentan inilah, organisasi harus hadir sebagai “rumah” yang sesungguhnya.
Bagi kita, masyarakat Bulukumba, nilai budaya adalah kompas. Kita mengenal filosofi agung: Mali’ Siparappe, Tallang Sipahua (hanyut saling mendamparkan, tenggelam saling tolong-menolong). Di tanah rantau, filosofi ini bukan sekadar pepatah usang, melainkan doktrin pertahanan hidup. Tidak boleh ada satu pun kader yang merasa berjalan sendirian, tertinggal, atau terasing. Jika satu orang tersandung, yang lain harus siap menopang; jika satu orang terjatuh, yang lain wajib menariknya bangkit.
Semangat ini berkelindan erat dengan nilai Sipatokkong (saling menegakkan) yang menjadi fondasi solidaritas kita agar tak mudah retak oleh friksi internal. Diperkuat pula dengan Sipakainge (saling mengingatkan), yang menempatkan kritik bukan sebagai ajang saling menjatuhkan, melainkan wujud cinta kasih agar kita tak salah arah. Serta Sipakalebbi (saling membimbing), di mana senioritas tidak digunakan untuk mendominasi, melainkan untuk mengayomi tanpa memasung kreativitas generasi baru.
Kaderisasi dan Episentrum Kepemimpinan Baru
Tantangan terbesar sebuah paguyuban mahasiswa adalah merawat napas kaderisasi. Sering kali organisasi tampak gagah saat memiliki pengurus, namun pelan-pelan mati suri jelang akhir periode. Ini adalah indikasi bahwa roda organisasi masih bertumpu pada figur, bukan pada sistem.
Kaderisasi di tubuh Ipmah Bulukumba Sultra harus dikembalikan fitrahnya sebagai kawah candradimuka. Kita tidak sekadar butuh anggota yang meramaikan acara, tetapi butuh kader pemikir yang kritis, tangguh, dan peka terhadap realitas sosial.
Di bawah nakhoda kepemimpinan baru, Ariel Apriadi, sebagai Ketua Umum periode 2026–2027, harapan besar tentu disematkan. Namun, Ariel dan jajarannya harus sadar bahwa kepemimpinan tidak diukur dari riuhnya tepuk tangan saat pelantikan atau deretan program kerja di atas kertas. Kepemimpinan diukur dari keteguhan merawat solidaritas, keberanian mengambil keputusan, kemampuan merangkul perbedaan, dan konsistensi menjaga nilai.
Mengutip penulis terkenal, Tom Peters. “Leaders don’t create followers, they create more leaders” yang dapat kita artikan Pemimpin yang hebat bukanlah dia yang membuat organisasinya bergantung pada dirinya, akan tetapi pemimpin yang mampu mencetak lebih banyak pemimpin baru
Mewariskan Kesadaran, Bukan Sekadar Jabatan
Dari kursi demisioner dan barisan senior, pesan saya jelas: keberhasilan Ipmah Bulukumba Sultra dapat kita lihat dari seberapa tangguh kader yang dicetak, bukan dari megahnya acara yang bersifat seremonial belaka.
Senior dan junior adalah dua entitas yang diikat oleh satu rahim sejarah. Senior hadir untuk menuntun tanpa dikte, sementara junior bergerak melangkah tanpa perlu memutus akar sejarah. Jangan sampai setiap pergantian pengurus hanya mengulang kesalahan yang sama.
Pada akhirnya, apa yang kita wariskan di Ipmah Bulukumba Sultra bukanlah semata-mata stempel, struktur, atau atribut kebesaran, melainkan nilai, kesadaran intelektual, dan persaudaraan tanpa pamrih.
Kepada pengurus yang baru, buktikanlah amanah ini dengan kerja nyata. Kepada seluruh kader, rawatlah persaudaraan di tanah rantau dengan hati yang tulus. Mari kita teguhkan kembali bahwa Ipmah Bulukumba Sultra adalah rahim yang melahirkan generasi cerdas, solid, dan berjiwa ksatria.
![]()



