KOLAKA — Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Kolaka menerjunkan fasilitatornya untuk melaksanakan salah satu program nasional Kemendikbud, yaitu Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB). Kegiatan ini diintegrasikan ke dalam rangkaian Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMKN 6 Kolaka, Kecamatan Samaturu, Kabupaten Kolaka, Provinsi Sulawesi Tenggara. Antusiasme tinggi dari para peserta didik baru yang dibarengi dengan dukungan penuh dari para guru membuktikan kesiapan matang sekolah ini dalam mewujudkan ekosistem sekolah tangguh bencana.
Langkah progresif ini mencatatkan sejarah baru bagi dunia pendidikan di Bumi Anoa Kolaka. SMKN 6 Kolaka resmi tercatat sebagai sekolah pertama di Kabupaten Kolaka yang secara mandiri berinisiatif mengajukan surat permintaan sosialisasi dan pelatihan program SPAB.
Kegiatan penting ini dipandu langsung oleh dua fasilitator muda PMI yang telah bersertifikat resmi, yaitu Muh. Arsal Efendi dan Muh. Riski. Keterlibatan fasilitator ahli ini bertujuan agar seluruh tahapan pelatihan berjalan sesuai dengan standar nasional, sekaligus menjadi pemenuhan hak konstitusional peserta didik untuk mendapatkan lingkungan belajar yang aman dan nyaman. Melalui pelatihan terstruktur ini, warga sekolah dibekali materi kesiapsiagaan bencana, praktik pembuatan peta dan rambu jalur evakuasi, hingga simulasi kedaruratan gempa bumi.
“Program nasional ini memiliki payung hukum yang kuat dan jelas berskala nasional, yaitu Permendikbud No. 33 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Program SPAB, serta didukung oleh panduan teknis melalui Persesjen Kemendikbud No. 6 Tahun 2019,” tegas Muh. Riski, Fasilitator SPAB, saat memberikan memaparan materi.
Harapan besar juga disampaikan oleh pihak sekolah atas dimulainya langkah bersejarah ini. “Setelah kegiatan ini berlangsung, kami berharap SMKN 6 Kolaka bisa mencapai predikat sebagai sekolah yang tangguh terhadap bencana. Melalui program ini, kami ingin memberikan rasa aman dan nyaman yang nyata saat proses belajar-mengajar, serta membangun kesiapsiagaan yang matang pada diri peserta didik mengenai kebencanaan,” ungkap Pembina PMR SMKN 6 Kolaka.
Menanggapi harapan tersebut, Muh. Arsal Efendi selaku rekan fasilitator menambahkan bahwa PMI berkomitmen penuh untuk mengawal program ini ke depan.“Membangun budaya siaga bencana itu membutuhkan proses yang konsisten. Kami dari tim fasilitator akan terus melakukan inisiasi dan komunikasi intensif agar pilar-pilar SPAB benar-benar tertanam, ditindaklanjuti, dan nantinya dapat dipraktikkan secara mandiri oleh seluruh warga sekolah,” ujarnya.
Dengan menjadi pelopor pertama yang melangkah bersama PMI Kolaka dalam menerapkan pelatihan kesiapsiagaan ini, SMKN 6 Kolaka diharapkan mampu menjadi sekolah percontohan serta sumber inspirasi bagi satuan pendidikan lainnya di Sulawesi Tenggara. Khususnya, bagi sekolah-sekolah yang berada di wilayah rentan terdampak bencana seperti Kecamatan Watubangga, Tanggetada, Pomalaa, dan Polinggona. “Sebab pada akhirnya, SPAB bukan sekadar simulasi sesaat, melainkan investasi jangka panjang untuk keselamatan generasi penerus bangsa,” pungkas Muh. Riski menutup pernyataan.
![]()














