Pembinaan Organisasi Mahasiswa dan Ruang Dialog Akademik Jadi Sorotan di FMIPA UHO

avatar Tidak diketahui

KENDARI, Sultra Central News – Polemik mengenai kegiatan pembinaan organisasi mahasiswa (Bina Akrab) di lingkungan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Halu Oleo (UHO) menjadi perhatian sejumlah mahasiswa. Perdebatan yang muncul tidak hanya menyangkut penyelenggaraan kegiatan kemahasiswaan, tetapi juga memunculkan pertanyaan mengenai prinsip keadilan akademik, transparansi kebijakan, dan perlunya ruang dialog antara mahasiswa dengan pihak kampus.

Menteri Pergerakan FMIPA UHO menyampaikan bahwa pembinaan organisasi merupakan bagian penting dalam proses membangun karakter, kepemimpinan, dan solidaritas mahasiswa. Menurutnya, kegiatan seperti Bina Akrab seharusnya dipandang sebagai bagian dari pengembangan organisasi kemahasiswaan.

“Pembinaan organisasi adalah proses membentuk kesadaran, kepemimpinan, dan solidaritas mahasiswa. Jika ruang untuk membina kader ditutup, maka organisasi akan kehilangan proses regenerasinya secara perlahan.”

Ia menambahkan bahwa mahasiswa tidak sedang meminta perlakuan khusus, melainkan mengharapkan adanya kepastian, keterbukaan, dan ruang dialog terhadap setiap kebijakan yang berdampak pada hak-hak mahasiswa.

“Kita membutuhkan keadilan akademik yang berpijak pada aturan, bukan pada penafsiran yang berbeda-beda. Mahasiswa hebat lahir dari ruang pembinaan, bukan dari ruang ketakutan.

“Di sisi lain, sejumlah mahasiswa menilai bahwa setiap kebijakan yang berkaitan dengan kegiatan kemahasiswaan sebaiknya memiliki dasar yang jelas, disampaikan secara terbuka, serta dapat dipahami oleh seluruh civitas akademika. Mereka berharap komunikasi antara mahasiswa dan pihak fakultas dapat lebih mengedepankan musyawarah sehingga tidak menimbulkan perbedaan persepsi. Beberapa pertanyaan yang mengemuka dalam diskusi mahasiswa antara lain:

1. Apakah setiap kebijakan yang berdampak terhadap mahasiswa telah memiliki dasar yang jelas dan disosialisasikan secara terbuka?

2. Bagaimana kebijakan akademik tetap menjunjung asas objektivitas, transparansi, dan keadilan?

3. Bagaimana kampus dapat menjaga keseimbangan antara pembinaan organisasi mahasiswa dan pelaksanaan kegiatan akademik?

Mahasiswa berharap persoalan ini dapat menjadi momentum untuk memperkuat tata kelola kemahasiswaan melalui dialog yang konstruktif. Mereka menilai bahwa organisasi mahasiswa merupakan mitra kampus dalam membentuk lulusan yang memiliki kemampuan akademik, kepemimpinan, integritas, dan kepedulian sosial.

Pihak mahasiswa juga menegaskan bahwa aspirasi yang disampaikan bukan ditujukan untuk menciptakan konflik, melainkan sebagai bentuk partisipasi dalam mewujudkan lingkungan akademik yang terbuka, adil, dan menjunjung tinggi nilai-nilai pendidikan tinggi.

“Kami hanya meminta kejelasan, bukan keistimewaan. Dialog adalah jalan terbaik untuk membangun kepercayaan antara mahasiswa dan institusi.”

Loading

Penulis: LM. AffanEditor: Editor