Mahasiswa UHO Raih Silver Medal di Dewata Essay Competition 3, Usung Inovasi Pertanian Sirkular

avatar Tidak diketahui
La Ode Muhammad Alfadar Nur dan Bahtera Samudra, mahasiswa Universitas Halu Oleo, usai meraih Silver Medal dan Favorit Poster di Dewata Essay Competition 3, 2–3 Mei 2026.

KENDARI, Sultra Central News – Dua mahasiswa Universitas Halu Oleo (UHO), La Ode Muhammad Alfadar Nur dari Jurnalistik FISIP dan Bahtera Samudra dari Teknik, menorehkan prestasi nasional dengan meraih Silver Medal dan Penghargaan Favorit Poster pada ajang Dewata Essay Competition 3 yang berlangsung pada 2–3 Mei 2026 di Universitas Dhyana Pura.

Kompetisi esai tingkat nasional tersebut diselenggarakan Ruang Inovasi Sains dan Karya Ilmiah (RISKI) bekerja sama dengan Universitas Dhyana Pura. Mengusung tema kontribusi inovatif generasi muda dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045, ajang ini diikuti oleh tim dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

Dalam kompetisi tersebut, tim UHO mengusung karya berjudul “GEMAR BERTANI: Gerakan Edukasi Membenah Sampah Organik Terintegrasi Budidaya Tanaman Hortikultura dalam Upaya Mendukung Sistem Pertanian Sirkular Berkelanjutan Tahun 2045.”

Alfadar menjelaskan, gagasan tersebut lahir dari keresahan terhadap dua persoalan yang kerap terjadi di masyarakat, yakni penumpukan sampah organik dan kelangkaan pupuk bagi petani.

“Selama ini kedua persoalan itu diselesaikan secara terpisah, padahal bisa dijawab dalam satu solusi karena sampah organik dan pertanian merupakan satu siklus yang utuh,” ujar Alfadar, Senin (4/5/2026).

Melalui konsep “Gemar Bertani”, masyarakat diarahkan membuat bio reaktor mini di dalam tanah dengan kedalaman 80 cm dan lebar 50 cm. Sampah organik disusun dalam delapan lapisan, mulai dari kotoran hewan, sisa makanan, hingga daun-daunan, lalu diproses menggunakan cairan mikroba.

“Setelah ditutup tanah bercampur kompos, bagian atasnya bisa langsung ditanami sayuran. Dalam waktu satu bulan sudah bisa dipanen, dan dalam 5–6 bulan sampah di dalam tanah berubah menjadi pupuk,” jelasnya.

Keberhasilan ini juga didukung kolaborasi lintas disiplin antara mahasiswa jurnalistik dan teknik yang dibimbing oleh Dr. Rahmanpiu. Alfadar menyebut tantangan terbesar yang dihadapi tim adalah keterbatasan dana untuk keberangkatan ke lokasi lomba. Ia berharap inovasi tersebut tidak berhenti pada kompetisi, tetapi dapat diterapkan secara luas.

“Gagasan ini berpotensi mengurangi volume sampah di TPA sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia, sehingga bisa dipertimbangkan dalam kebijakan nasional,” pungkasnya.

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *