Kelangkaan BBM di Kolaka, Harga Eceran Tembus RP20 Ribu Perliter

avatar Tidak diketahui

KOLAKA – Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite yang terjadi di Kabupaten Kolaka dalam beberapa hari terakhir berdampak langsung pada lonjakan harga di tingkat pengecer. Di sejumlah wilayah, masyarakat mengaku terpaksa membeli BBM dengan harga mencapai Rp20.000 per liter akibat sulitnya mendapatkan pasokan di SPBU. Kondisi tersebut memicu keresahan warga karena mengganggu aktivitas sehari-hari dan meningkatkan biaya transportasi.

 

Pantauan di lapangan menunjukkan antrean kendaraan masih terjadi di sejumlah SPBU. Banyak pengendara rela menghabiskan waktu berjam-jam untuk mendapatkan BBM, sementara sebagian lainnya memilih membeli dari pengecer meski dengan harga yang jauh lebih tinggi dari harga resmi Pertalite yang saat ini berada di angka Rp10.000 per liter.

 

Salah seorang warga Kolaka, Andi (35), mengaku kesulitan menjalankan aktivitas usahanya akibat kelangkaan BBM yang belum kunjung teratasi.

 

“Kalau tidak beli di pengecer, kendaraan tidak bisa jalan. Tapi sekarang harganya sudah sampai Rp20 ribu per liter. Ini sangat memberatkan masyarakat kecil,” ujarnya, Rabu (6/8).

 

Kelangkaan Pertalite di Kolaka sendiri telah menjadi sorotan masyarakat dalam beberapa hari terakhir. Warga mendesak adanya penjelasan resmi dari pihak terkait mengenai penyebab terganggunya pasokan BBM bersubsidi tersebut, apakah disebabkan keterlambatan distribusi, kendala logistik, atau faktor lainnya.

 

Sejumlah tokoh masyarakat juga meminta pemerintah daerah bersama PT Pertamina Patra Niaga segera mengambil langkah konkret untuk menormalkan distribusi BBM. Mereka menilai keterbukaan informasi mengenai kondisi stok dan jalur distribusi sangat penting guna mencegah spekulasi serta kepanikan di tengah masyarakat.

 

Hingga berita ini diturunkan, belum terdapat keterangan resmi yang menjelaskan secara rinci penyebab kelangkaan Pertalite yang terjadi di sejumlah SPBU di Kabupaten Kolaka. Masyarakat berharap pasokan BBM segera kembali normal agar aktivitas ekonomi dan mobilitas warga tidak terus terganggu.

Loading

Penulis: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *