KENDARI, Sultra Central News – Distorsi informasi dari pidato Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman, yang mengeluhkan perilaku menanam pohon pisang di jalan-jalan rusak sempat viral dan menjadi perbincangan publik. Namun, jarang ada yang mengetahui konteks pidato tersebut. Yang tersebar di media sosial dan sejumlah portal media hanyalah potongan video yang menimbulkan kesan seolah-olah Gubernur Sulawesi Selatan antikritik.
Pidato Gubernur Sulawesi Selatan tersebut disampaikan setelah penayangan video mengenai kinerja dan program-program pemerintah provinsi sejak ia menjabat sebagai gubernur pada 2025. Dalam video tersebut disajikan berbagai data pembangunan yang telah dilaksanakan dan sedang diprogramkan oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan. Di antara program-program yang menonjol, antara lain:
1. Perbaikan jalan kewenangan provinsi sepanjang 1.400 kilometer melalui skema multiyears atau tahun jamak yang akan selesai tahun depan, yakni 2027. Program tersebut merupakan intervensi jalan terpanjang yang pernah dilakukan oleh pemerintah provinsi sepanjang sejarah. Sebagai ilustrasi, panjang jalan 1.400 kilometer setara dengan jarak perjalanan darat dari Kota Makassar ke Gorontalo di Pulau Sulawesi. Jarak tersebut juga hampir dua kali lipat panjang Tol Jakarta–Surabaya di Pulau Jawa, atau kurang lebih sama dengan jarak dari Kota Medan ke Palembang di Pulau Sumatra. Intinya, Gubernur Sulawesi Selatan tengah bekerja menyelesaikan seluruh kerusakan pada jalan-jalan yang menjadi kewenangan pemerintah provinsi di berbagai pelosok Sulawesi Selatan dengan volume yang sangat masif dan belum pernah terjadi sebelumnya.
2. Selain perbaikan jalan, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan pada saat yang sama juga sedang melaksanakan perbaikan saluran irigasi dengan panjang total 163 ribu meter pada 39 daerah irigasi di Sulawesi Selatan. Luas lahan pertanian yang akan mendapatkan layanan dari program multiyears irigasi ini diperkirakan mencapai 54 ribu hektare, atau setara dengan tiga kali luas Kota Makassar, atau hampir seluas Jakarta.
3. Berbagai program strategis lainnya juga dilaksanakan, seperti pembangunan dua unit rumah sakit regional di wilayah utara dan selatan Sulawesi Selatan; penyediaan transportasi massal bersubsidi, yakni Trans Sulsel, yang melayani kawasan aglomerasi Mamminasata; pemberian bantuan alat dan mesin pertanian secara gratis; bantuan perahu bermesin untuk nelayan; hingga program-program yang menyentuh langsung masyarakat di pelosok, seperti beasiswa, perbaikan rumah tidak layak huni atau RTLH, penyediaan air siap minum atau Arsinum, bantuan peralatan UMKM, serta layanan kesehatan bergerak ke pulau-pulau.
Aksi Tanggap Bencana Kendari,Organda Sultra Gerak Cepat Salurkan Bantuan ke Anak Kos Korban Banjir.
Itulah konteks pidato Gubernur Sulawesi Selatan pada momentum Hari Jadi Kabupaten Maros di Gedung DPRD Kabupaten Maros beberapa waktu lalu. Substansinya adalah bahwa pemerintah sedang bekerja serius menyelesaikan seluruh keluhan masyarakat. Program sedang berjalan. Masyarakat tinggal menunggu giliran daerah yang akan terlebih dahulu diintervensi sesuai dengan perencanaan. Karena itu, aksi menanam pohon pisang untuk menarik perhatian pemerintah terasa berlebihan, terutama ketika pemerintah telah meluncurkan program perbaikan dan masyarakat hanya perlu menunggu intervensi yang sudah pasti serta tinggal menghitung bulan.
Satu hal yang juga patut menjadi catatan adalah penyajian informasi yang tidak utuh sehingga menimbulkan distorsi di tengah masyarakat. Kondisi tersebut berpotensi menciptakan kegaduhan dan disharmoni.
Di sinilah letak tanggung jawab moral media massa dan para pengamat yang memiliki kekuatan untuk mengamplifikasi sebuah peristiwa menjadi opini publik yang memengaruhi suasana hati masyarakat kita.
![]()


